Wednesday, July 13, 2011

Mountaineering

Posted by Unknown on 11:06 PM


Mountain Climbing
Mountain Climbing, diterjemahkan dari Bahasa  Inggris berarti  naik gunung, merupakan kegiatan pendakian gunung dan rekreasi populer serta mendunia. meliputi aktifitas olah raga, mendaki bukit, menyusuri lembah, camping, turun tebing, naik tebing, mendirikan kemah dan lain sebagainya. Sebelumnya aktivitas mountain climbing merupakan olah raga yang berbahaya dan membutuhkan menajemen yang tidak mudah, oleh beberapa penggiat olah raga ini menciptakan berbagai teknik dan aturan untuk mempermudah mengatasi kesulitan yang terjadi.yang pada akhirnya disebut Mountainerring. 
Mountaineering adalah teknik teknik pendakian gunung. Tahun 1786 di jazirah Eropa aktifitas mountain climbing di bagi menjadi hill walking, scrambing, rock climbing dan snow climbing.

Hill Walking
Merupakan sebuah perjalanan jarak jauh yang membutuhkan waktu panjang untuk melintasi daerah asing dengan selamat. Misalnya keluar masuk hutan, menyusuri sungai, melintasi daerah berbukit. Ini adalah kecakapan yang paling dasar dalam pendakian gunung.
Hill Walking di indonesia berupa kegiatan pendakian ke gunung, lebih dikenal dengan nama Hiking (pendakian) hal ini disebabkan gunung yang ada di Indonesia rata-rata membutuhkan jarak tempuh yang cukup panjang dan lama.
Dan materi Hill Walking merupakan bahasan khusus dalam materi diktat ini, sedang bagian lainnya dijelaskan tersendiri dan terpisah dalam bab lain

Scrambling
Yaitu kegiatan pendakian gunung dengan melintasi medan yang membutuhkan  peralatan tambahan berupa tali sebagai alat bantu.

Rock Climbing
Yaitu pendakian gunung yang harus melewati tebing-tebing batu yang terjal, dimana bermacam-macam alat bantu harus dipergunakan untuk bisa menaikinya. Kekuatan tubuh merupakan aspek penting dalam rock climbing, tetapi bagi pemanjat yang berpengalaman mereka lebih mementingkan ketahanan tubuh, koordinasi otot, kemudahan dan keseimbangan.

Ices - Snow Climbing
Jenis ini dapat dipisahkan satu sama lain. Ice climbing meliputi teknik-teknik menaiki tebing-tebing es, dengan peralatan utama ice axe dan sepatu berpaku (nailed boots). Sedangkan snow climbing adalah pendakian pada gunung-gunung bersalju, dengan bermacam jenis medan yang ada. Pada snow climbing ini, ice climbing dan rock climbing, scrambling dan hill walking menjadi bagian darinya.
Ice climbers, menggunakan peralatan yang lebih khusus seperti crampons, kapak es, ice screw dan tali untuk menaiki air terjun yang membeku. Pemanjat sedang menambah ketinggian dengan menggunakan satu pengaman kapak sementara rekannya membelay dari atas.

Ekspedisi
Ekspedisi, suatu perjalanan atau penjelajahan dimana dibutuhkan pengetahuan dan ketrampilan khusus, karena lama dan kesukarannya serta pengorganisasiannya yang khusus pula.

Untuk mendukung kelima aktivitas tersebut perlu juga dipelajari pengetahuan atau keterampilan khusus seperti pengetahuan navigasi darat yang meliputi pembacaan peta kompas serta kemampuan orientasi medan. Selain itu juga teknik pemanjatan dan turun tebing, camping, rescue dan survival yang merupakan kemampuan dasar yang harus dikuasai dengan baik oleh seorang pendaki.

Catatan
Dalam perkembangannya kelima aktifitas utama di atas saling memisahkan diri, dimana hill walking, scrambling, rock climbing sudah menjadi olah raga tersendiri karena itu perlu pembahasan yang terpisah untuk mengetahui aktifitas-aktifitas di atas secara lebih khusus.
Bagi GEGAMA, Hill Walking dan Scrambling sudah masuk dalam suatu divisi tersendiri, yaitu divisi Hutan Gunung. Divisi ini berkonsentrasi dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan mendaki gunung sekaligus rescuenya yang merupakan dasar bagi seorang pencinta alam. Sedangkan untuk Rock Climbing juga sudah memiliki divisi sendiri yaitu divisi Panjat Tebing yang tentunya konsentrasi kegiatannya juga panjat tebing, mulai dari teknik panjat, pengenalan dan penggunaan alat. Untuk Ekspedisi dijelaskan dalam bab Manajemen dan Organisasi Ekspedisi, sedang Ice/Snow Climbing tidak dilakukan di indonesia sehingga tidak perlu penjelasan yang mendalam


Istilah Mountaineering
Clean Climbing/Free Climbing, suatu pendakian dimana peralatan yang ada hanya berfungsi sebagai alat pengaman ( tali, piton, chocks, dll ).
Aid/Artifical Climbing, suatu pendakian dimana peralatan yang ada ( piton, stirr ups, bolt/bor, dll ) sudah berfungsi sebagai alat bantu naik. Jadi tidak hanya sebagi alat pengaman.
Traversing, suatu istilah untuk kegiatan dimana dalam suatu pendakian terpaksa harus merubah arah menyilang ke kiri/kanan, karena untuk langsung ke atas medannya tidak memungkinkan. Juga untuk istilah pendakian dimana jalur yang di pakai untuk naik dan untuk turun berlainan, misalnya naik lewat Kinahrejo dan turun lewat Selo dalam pendakian G. Merapi.

Rapelling/Abseiling/Descending, suatu cara atau metode untuk menuruni tebing dengan memanfaatkan tali dan friksi/gesekan tali itu sendiri.
Grade, tingkat kesukaran dalam pendakian yang dinyatakan dalam bentuk angka atau huruf yang sudah di standarisasikan sebelumnya.  
Belay, adalah alat dan cara/teknik dalam pendidikan dimana seorang pendaki dapat menjaga pendaki kawannya dari bahaya jatuh. Beberapa jenis Belay
Belay Langsung (Direct Belay)
Belay Statik (Static Belay)
Dinamik Belay
Running Belay
Pitch, yaitu jarak antara pendaki yang di belay dan yang membelay
Guide Books, buku yang berisi jalur-jalur pendakian yang ada pada suatu gunung, medan-medan yang sukar, pos-pos yang ada serta kekhususan yang ada.

Perlengkapan Umum Mountaineering
Sepatu/Boots
Sepatu adalah alat yang paling penting dalam suatu pendakian. Salah satu ciri khas sepatu pendaki selalu menutupi/melindungi mata kaki/ankles. Jenis-jenis sepatu pendakian :

Climbing Boots, cirinya adalah sepatu kaku, bahan kulit, ujungnya agak meruncing, lobang kaki tidak melewati kulit sepatu, tetapi lewat pengait metal. Tetapi yang paling penting adalah bahwa solnya cukup kaku dan weltnya (tempat sekeliling sepatu dijahit dengan solnya) tidak terlalu lebar. Merek-merek terkenal untuk climbing boots adalah : Raichle, Aletsch, dan Robson.
Walking Boots, hampir sama dengan climbing boots tetapi solnya lebih fleksibel dan ringan. Sepatu kanfas bisa dipakai, hanya saja tidak waterproof dan licin
Rock climbing boots, sepatu ini didesain khusus untuk rock climbing, sangat ringan, dengan sol yang berciri khusus yaitu kalau mendapat tekanan yang memanjang (mengikuti arah jari kaki), sol itu akan lentur, sesuai dengan gerak telapak kaki.Tetapi kalau mendapat tekanan yang melebar sol itu akan kaku dan mengeras. Merek yang terkenal adalah : P. A., Dolomites, Fire dan E.B
Winter Boots/double boots, dipergunakan untuk pendakian dinding besalju, terdiri dari sepatu dalam dan sepatu luar. Sepatu dalam sangat lentur dan lunak sebagai pelindung udara dingin dan frost bite. Sedang sepatu luar seperti climbing boots.

Gaiter
adalah selubung dan penutup batas kaki dimana gaiter berguna untuk menghindari sepatu dari kemasukan kerikil, pasir, butir salju, kebasahan total, serta perembetan panas ekstra bagi kaki pendaki.

Parka/Anorka
adalah jaket windproof yang mempunyai tutup kepala yang penempatannya di desain sedemikian rupa sehingga tidak menghalangi gerak kepala. Pakailah yang ukurannya cukup besar untuk dapat menutupi tubuh yang sudah memakai atau sweater dengan panjang yang bisa menutupi pinggang. Jenis-jenis lain adalah :
Waterproof  parka ( daerah hujan )
Down parka ( untuk salju )

Pakaian
Untuk melindungi tubuh dari benda-benda yang berbahaya atau udara yang ekstrim dan sebagai satu-satunya insulator yang berhubungan langsungan dengan tubuh kita.

Tenda
Dalam pemakaian kita harus memperhitungkan faktor penggunaan statis atau dinamis, jika dinamis, dibawa dengan apa ukuran, jumlah, tempat, iklim/cuaca. Ada 2 jenis bentuk dasar :
Bentuk kutup A, Yaitu tenda yang berbentuk seperti huruf A
Bentuk Geodesic, yaitu tenda yang berbentuk setengah bulat.
Tenda juga di bagi atas dasar lapisannya, yaitu satu lapis dan dua lapis. Lapisan dalam terbuat dari bahan yang halus dan tembus udara (katun, dsb), sedangkan lapisan luarnya dari jenis bahan yang waterproof dan windproof.

Sleeping Bags
Kantung tidur yang memiliki fungsi sebagai alas tidur dan selimut tidur, menyediakan insolasi yang tepat bagi bagi suatu temperatur luar tertentu

Ransel
Tempat penyimpan barang bawaan, dari yang memiliki ukuran kecil hingga ukuran besar (carrier), dan tipe terdiri dari frameless (non rangka), frame (berangka), dan frame purpose (serbaguna).

Tali
Jenis tali yang sering dipakai adalah terbuat daribahan nylon, yaitu
Hawser laid, terdiri dari serabut nylon yang dijalin tiga. Keuntungan adalah lebih tahan terhadap gesekan batuan dan lebih gampang diketahui jika ada cacat/kerusakannya, elastisitas hampir mendekati 0% sehingga kalau seseorang terjatuh dan memakai hawser laid hentakannya akan terasa sekali.

Kernmantel, terdiri dari dua bagian, yaitu bagian dalam yang disebut kern dan bagian luar yang disebut mantel. Terbagai dalam dua jenis :
Tali Dinamis, mempunyai elastisitas elongasi yang tinggi berkisar antara 10 – 5%, apabila terkena beban normal sehingga dalam menahan jatuh dapat menyerap tenaga jatuh (impact force) yang cukup tinggi. Digunakan dalam Rock Climbing.
Tali Static, mempunyai daya elongasi yang tidak terlalu tinggi antara 3 – 5%, apabila terkena beban normal. Dipakai pada kegiatan naik dan turun dengan peralatan mekanik, seperti dalam penelusuran gua dan pada tali lintasan, dimana tenaga gerak yang dilakukan tidak habis terserap elongasi kelenturan yang terjadi.
Tali ini juga memiliki hitungan BS (Breaking Streght) yaitu daya yang diperlukan pada tali yang tidak terjadi pengurangan kekuatan yang disebabkan oleh karabiner, simpul, dan tekukan. BS terhadap tekukan dan tekanan/edgess, maksimum B.S akan berkurang kekuatannya, apabila tali melewati karabiner atau tekukan/tekanan lainnya mencapai 30% dari maksimumnya

Descender
Yaitu alat yang digunakan untuk turun melalui tali, terdiri dari beberapa macam :
Eight. Descender sering digunakan dalam rockclimbing, ringan mudah pemasangannya, tapi mengakibatkan tali melintir dan tidak efektif untuk jarak turun yang panjang.
Brake bar Descender, Dibuat dari karabiner yang di susun sedemikain rupa, sehingga bisa menimbulkan friksi pada tali. Sangat menguntungkan pada saat darurat. Tali tidak melintir.
Capstan Descender, bekerja atas dasar adanya gesekan pada tali yang terpasang melingkar pada dua buah capstan. Tali tidak melintir dan efektif untuk jarak turun maksimal 50 -60 m.
Rack descender, tali dilewatkan pada batangan-batangan yang memanjang seperti rak, sangat efektif untuk jarak panjang lebih besar 50 m.

Ascender
Alat yang digunakan untuk naik melawati tali, sering juga disebut jumar. Bekerja dengan cara mekanikal, yaitu dengan cara mengepit tali, sehingga akan tertahan kalau terkena beban, tapi akan didorong leluasa ke atas bila tidak kena beban. Dengan cara prusik loop, yaitu denag melilitkan tali yang diameternya maksimum 1/2 dari daimeter tali utama dengan teknik tertentu, sehingga akan berfungsi sama dengan model-model mekanikal.

Carabiner / Cincin kait / Snapring
Alat paling fital dalam pendakian. Terbuat dari allumunium Alloy, berbentuk cincin dengan bukaan yang ditahan oleh pegas dan ada yang ditambah dengan pengaman mur/skrew. Jenisnya menurut bentuk dan kegunaan :
Oval carabiner : Berbentuk oval simetris, terutam digunakan untuk mengaitkan ala-alat bantu seperti descender dan ascender.
D. carabiner ; berbentuk huruf D simetris atau trapesium, merupakan pengembangan dari oval carabiner, berkarakteristik, tertanggungnya beban pada sisi terkuat dari carabiner.
Offset D. crabiner : Pengembangan dari D. carabiner berbentuk D tetapi tidak simetris, salah satu dari sisi miringnya melebar, sehingga membuat jarak bukaan menjadi lebih lebar dan adanya salah satu sisi miring yang lebih panjang, sehingga dapat lebih banyak menampung kaitan.
Hitch/Spear Carabiner , dibuat terutama untuk dipakai untuk membelay dengan cara "Italian Hitch"


Pendakian Gunung – Hill Walking

Perlengkapan Ormed

Peta
Bawalah selalu peta tempat pendakian dilaksanakan, apalagi bagi yang belum pernah mendatangi tempat tersebut. Meski jalur pendakian sudah jelas namun membawa peta tetapi diperlukan untuk tetap berlatih, melakukan pengamatan, orientasi medan, dan mengenali kenampakan yang ada dalam peta dan dilapangan dan membandingkannya. Jika tersesat disuatu wilayah kita tinggal kembali ke jalur semula dan memperbaiki arah tujuan.

Kompas
Jenis kompas banyak macamnya, tapi yang ideal digunakan adalah yang memiliki cairan didalamnya sehingga putaran jarumnya stabil dan tidak banyak bergeser dan bergerak, perhatikan benda disekitar saat menggunakan kompas yang dapat mempengaruhi medan magnet seperti pagar besi atau barang-barang yang melekat dengan kita. Kegunaan utamanya untuk menentukan arah

Protaktor
Dalam melakukan orientasi medan, diperlukan alat untuk mengukur sudut di peta. Protaktor sebagai alat pengukurnya, bentuknya bermacam-macam kadang disertai mistar pengukur, terdapat angka yang mengelilingi lubang kecil yang diberi tali. Tali berfungsi sebagai arah yang ditunjuk hasil pengukuran dengan kompas.
Protaktor dapat diganti dengan busur biasa hanya saja dipelukan perhitungan kalibrasi untuk mengukurnya.

Alat Tulis
Berupa pinsil, balpoint, dan atau spidol anti air. Sebagai alat untuk menulis jadwal dan peta perjalanan hiking. Dapat pula untuk menulis sesuatu terutama mencatat kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama perjalanan bahkan mengapresiasikan ilmu yang dipelajari di ruang kuliah/sekolah misalnya dengan melakukan penelitian flora.

Binokuler
Tidak diwajibkan untuk dibawa hanya saja jika ada sangat baik untuk dibawa.  Melakukan pengamatan dilapangan perlu dilakukan hanya saja kadang terbatas oleh kemampuan manusia mengamati benda yang letaknya jauh, jika menggunakan binokuler cukup membantu.


Perlengkapan Perjalanan

Pakaian
Dalam pembahasan ini pakaian yang termasuk didalamnya adalah baju, celana panjang, dan pakaian dalam. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, pakaian yang digunakan adalah yang dapat mempertahankan temperatur badan tetap normal 37°C – 36,5°C, melindungi tubuh dari benda-benda yang berbahaya seperti kerikil, tanah, batu, dan sebagainya selain itu mampu menghambat udara panas/dingin ekstrim yang akan menyerang tubuh kita.
Untuk mendapatkannya kita harus memakai pakaian yang berlapis cukup mampu menahan udara yang terperangkap itu (ini tergantung daerah kita melakukan pendakian). Pakaian yang kita gunakan perlu diperhitungkan apakah terbuat dari bahan waterproof atau windproof, serta memperhitungkan faktor keringat, yang minimbulkan kelembapan yang dapat menurunkan temperatur tubuh. Jumlah pakaian yang dibawa sebaiknya memperhitungkan lama perjalanan agar tidak membawa yang tidak perlu. 
Jika perjalanan 2 hari sebaiknya kita membawa 3 stel baju (belum termasuk yang dipakai).

Jaket
Sebagai pakaian yang khusus menahan hawa dingin, umumnya baju yang kita gunakan tidak cukup untuk menahan hawa dingin didaerah pegunungan. Jaket dibedakan dengan pakaian karena memiliki lapisan kain yang lebih tebal, mengandung lapisan foam, busa, atau bulu angsa. Jaket yang baik adalah yang memiliki lengan panjang dan pada ujung pergelangan memiliki karet menjepit pergelangan sehingga hawa tidak masuk, begitupula pada bagian sekitar perut memiliki karet penjepit, meskipun panjang kebawah umumnya pada jaket memiliki tali penjepi bagian pinggangnya.
Salah satu bagian yang penting adalah memiliki kerah yang dapat ditegakkan untuk perlindungan leher dari hawa dingin. Leher daerah sensitif pada perubahan suhu karena didalamnya berkumpul jaringan syaraf yang berkoordinasi antara otak dan tubuh, jika tiba-tiba hawa dingin terkena pada bagian leher maka kita akan mengalami pusing (migren) di kepala karena syaraf dan jaringan darah di leher tiba-tiba berhenti sehingga suplai oksigen terhambat dari dan ke otak. Jika tidak memiliki kerah jaket atau tidak cukup menutup leher, dapat ditambahkan kain dan melilitkannya diliher atau yang disebut syal
Tambahan lainnya yang perlu adalah jaket tersebut memiliki tutup kepala,  jika tidak ada dapat diganti dengan topi rimba atau kupluk, (menutupi telinga)

Raincoat
Artinya jas hujan, berguna saat hujan turun. Pakaian basah tidak baik untuk kesehatan sehingga saat hujan turun kita memerlukan pakaian yang tidak akan basah karena air, salah satunya dengan menggunakan raincoat. Selain raincoat dapat juga kita menggunakan ponco yaitu lembaran (sheet) plastik yang telah diberi lubang dan tutup kepala ditengahnya, sebenarnya ponco lebih efektif dalam menahan air hujan dibanding ponco namun dalam melakukan aktifitas lebih merepotkan dibanding raincoat yang bentuknya mengikuti pola pakaian.
Raincoat terbuat dari bahan anti air yang dilapisi lilin pada bagian dalam, lapisan lilin memperkuat jalinan kain agar air tidak langsung terserap kedalam namun dalam kondisi lama air dapat masuk dalam lapisan dalam menurut karena proses pengembunan. Memilih raincoat yang baik adalah memiliki lapisan penyerap bagian dalamnya (biasanya seperti jaring) untuk menyerap keringat dari tubuh. Melakukan  gerakan-gerakan tubuh menghasilkan panas dan keringat, jika keringat tidak diserap oleh pakaian maka tubuh akan basah oleh keringat sendiri dan itu tidak ada bedanya jika kita terkena air (sama-sama kondisi basah) dan tidak menyehatkan.
Jika sudah dalam keadaan istirahat segeralah mengganti pakaian yang basah dengan pakaian kering agar kondisi badan terjaga

Sepatu/Boots
Jenis sepatu yang digunakan adalah tipe walking boots yang memiliki sol, bahan ringan, fleksibel dan menutupi mata kaki, tetapi umumnya non water resistan atau tidak anti air, saat sepatu terendam dalam air dalam waktu lama (jika tinggi air tidak sampai melewati tinggi sepatu) air meresap masuk dalam lapisan kain dan jahitan lalu bagian dalam sepatu menjadi basah dan sepatu menjadi lebih berat.
Dengan seiring perkembangan waktu sepatu tipe ini dapat menahan air yang menyerap masuk kedalam, pada bagian alas tali sepatu dijahit rapat ke badan sepatu dan bagian pada sol sepatu selain jahitan ditambah dengan lem sehingga rembesan air dapat ditahan. Sepatu lapangan yang ideal dan banyak digunakan adalah model Lars yang kita sebut sepatu tentara, hanya saja sepatu tersebut pada kondisi baru cukup “keras” dan mampu melukai kaki sehingga untuk memakainya diakali dengan menggunakan kaus kaki tambahan atau memberi lapisan plaster pada bagian kaki yang mungkin terluka

Gaiter
Adalah selubung yang penutupi batas kaki dan lubang kaki celana dimana gaiter berguna untuk menghindari sepatu dari kemasukan kotoran, lumpur, kerikil, pasir, kebasahan total, serta perembetan panas ekstra bagi kaki pendaki.
Bentuknya seperti decker sepak bola terbuat dari bahan anti air, memiliki resliting yang dibuka samping pada bagian bawah memiliki tali yang menjepit pada sol sepatu dan kait yang dikait di ujung bawah tali sepatu serta bagian atas ada karet penjepit untuk menjepit gaiter dengan betis (tepat dibawah lutut).

Ransel
Atau sering disebut tas punggung pada dasarnya dibagi menjadi tiga jenis :
Framless (tanpa rangka), biasanya dengan ukuran yang tidak terlampau besar, termasuk one day pack. Kekurangannya adalah tidak memberikan fentilasi yang baik terhadap punggung serta sulit untuk membawa barang yang keras.
Frame, biasanya berukuran besar, mampu membawa barang banyak dan berat, memberi fentilasi yang baik terhadap punggung. Dan dari jenis ini adalah fix frame (tetap), assembling frame (bisa di rakit), external frame, internal frame, malleable frame. Biasanya yang berukuran diatas 60 liter
Frame purpose (serba guna), yang paling populer biasanya fremeless, ukurannya besar dan bisa di pakai untuk ekspedisi yang jauh maupun pendakian gunung bersalju. Dilengkapi dengan tempat menggantungkan kompas es, crampon, saku/kantong-kantong luarnya bisa dilepas. Sangat fleksibel hanya saja ukurannya tidak ada yang kecil.

Atas dasar penyebaran beban, ransel dapat di bagi 2 :
Shoulder Loading System, dimana seluruh beban tergantung pada bahu. Umumnya digunakan pada perjalanan yang pendek, beban yang dibawa tidak banyak dan ransel yang digunakan seukuran ­daypack­
Hip Loading System, dimana beban terbagi pada bahu dan pinggul. Keuntungannya yaitu beban dari bahu di pindahkan ke pinggul (lebih dari 70 %), pengurangan pada bahu dan otot-otot perut lebih rileks sehingga sangat menguntungkan dalam perjalanan panjang, lebih leluasanya penyesuaian distribusi berat dan fentilasi.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih ransel yaitu : stabilitas, fentilasi, kemampuan membawa barang/daya angkut, togetherness.
Untuk ransel yang kita senantiasa kering dan bersih, diperlukan kain yang menutupi seluruh permukaan ransel disebut cover bag atau cover rain. Terbuat dari bahan tahan air seperti nylon dan yang mengandung lilin sehingga air tidak dapat meresap masuk kedalam

Tenda
Untuk perjalanan/hiking yang membutuhkan base camp lapangan, menggunakan tenda tetap yang ukurannya besar (seperti tenda pramuka) dan yang berpindah menggunakan tenda tipe dome (kubah) karena lebih ringan, instan, dan sederhana. Dapat juga tenda sederhana menggunakan flying sheet.
Dalam membuat tenda sebagai shelter, buatlah senyaman mungkin. Bebas dari hembusan angin, air hujan, binatang terutama serangga, dan tidak mudah rusak/rubuh

Parang
Digunakan untuk menebas atau memotong sesuatu yang lebih kuat dibanding menggunakan pisau. Parang berguna untuk menebas pohon, ranting, atau semak yang menghalangi jalur perjalanan. Selain itu juga dalam melakukan perjalanan, parang. Dipergunakan pula pada saat masak untuk memotong kayu atau membuka kaleng, dan penggunaan lainnya yang penting adalah saat buang air besar yaitu dipergunakan untuk membuat lubang :)
Ukuran parang yang ideal adalah 20 – 50 cm (ukuran bilah), memiliki sarung, ujung tajam, dan lebar bilah sebanding dengan panjang bilahnya misalnya panjang bilah 20 cm maka lebarnya ± 5cm, jika diperlukan cari yang agak ringan (±0,5 kg). Bentuk bilah parang berbeda-beda ada yang lurus dan adapula yang melengkung, yang lurus lebih mudah dipacking dan biasanya lebih ringan dari yang melengkung, sedang yang melengkung efektif dalam memotong karena berat. Jika parang tidak memiliki sarung sebaiknya dibungkus dengan kain atau kertas dan ujungnya yang runcing juga harus tertutup agar tidak merobek ransel jika dimasukkan. Dalam berjalan jika tidak digunakan masukkan dalam ransel dalam posisi berdiri.
Dalam menggunakan parang perlu diketahui cara penggunaannya seperti cara membuka dari sarung dan menebas. Menarik parang dari sarungnya tidak seperti menarik pedang. Pegang sarung parang pada sisi tumpul parang dan sisi tajam dihadapkan kedepan, lalu saat menarik parang jangan ada bagian tangan atau jari yang melingkar disisi tajam sarung parang, karena dimungkinkan sisi tajam dari sarung parang telah aus, dan ketika parang ditarik bilah tajam dari parang sedikit keluar dari sisi sarung yang aus dan jari yang menghalanginya tentunya akan digores (untung jika tergores, kalau terpotong?). Untuk menebas menggunakan parang perlu diketahui adalah gangang parang yang digunakan apakah hanya ditancapkan atau di kling (dikunci paku), jika di kling tidak bermasalah, yang bermasalah adalah yang tidak di kling, saat menebas parang perhatikan arah putaran tebasan apakah ada yang akan terkena bilah parang jika terlepas dari ganggangnya.

Tempat Air
Air sebagai salah satu kebutuhan pokok selama perjalanan hiking, baik saat berjalan maupun isitirahat (kamp). Saat berjalan diperlukan untuk menggantikan cairan yang hilang dalam tubuh sedang ketika kamp sebagai bahan masak-memasak dan juga kebersihan. Untuk minuman diperjalanan, campur dengan bahan pembangkit energi karena energi akan terkuras dari kondisi kita berjalan normal.
Sedang untuk masak dan kebersihan sebaiknya yang mentah. Simpanlah satu tempat air untuk minum selama perjalan di luar tas/carrier misalnya di kantung celana
Bawalah air minimal 5 liter untuk perjalan 2 hari 1 malam, dan gunakan secara hemat. Air sebanyak 5 liter dimasukkan dalam tas, jangan ditenteng tangan karena perjalanan akan lebih melelahkan. Kondisi tempat air dalam tas harus rapat betul agar tidak bocor meski tas mendapat tekanan.

Matras
Merupakan sebutan untuk alas tidur, terbuat dari bahan tebal, lentur, ringan, dan kuat. Matras sangat baik sebagai isolator yang menahan hawa dingin tanah ke badan saat badan bersentuhan dengan tanah, sehingga berguna untuk menjaga kondisi badan di lapangan ketika istirahat tidur, matras dapat diganti dengan kain atau ponco. Jika dalam kondisi survival diganti dengan dedaunan yang kering atau gelondongan/potongan kayu yang banyak dan disusun teratur (atau dikombinasikan dengan daun-daunan) sehingga nyaman untuk tidur.
Matras yang dijual, umumnya terbuat dari campuran karet dan busa, panjang 2 meter dan lebar bervarisi antara 30 cm – 75 cm (tergantung potongan dan merek yang dijual) dan saat ini yang dijual disertai dengan tali pengikat sehingga mudah untuk packing dan dibawa.

Sleeping Bags
Disingkat SB adalah kantung tidur yang terbuat dari bahan nilon dengan campuran serat lain, tebal mengandung foam atau kapas atau bulu angsa dan lapisan dalamnya agak kasar guna menyerap dan menahan panas tubuh keluar dari SB. Menutupi seluruh tubuh kecuali bagian muka, namun kadang dapat menutupi seluruh muka, kancing yang digunakan berupa zip resliting panjang atau tali atau kombinasi keduanya. dan memiliki kantong/tas penyimpanan SB
Tipe yang banyak digunakan ada dua yaitu tipe mumi (kepompong) dan tipe persegi. Tipe mumi berbentuk kepompong yang memiliki tempat kepala, lebih tebal dibanding bentuk persegi tapi tidak dapat dimekarkan menjadi alas seperti tipe persegi. Saat menggunakannya di beri alas agar tidak kotor dan usahakan tidur dalam posisi selonjor sehingga semua otot dalam keadaan relaks. Dan kantong SB disisip masuk dalam SB agar tidak hilang.

Alat Masak dan Bahan Bakar
Hiking tidak sekedar berjalan-jalan, makan di lapangan juga bagian dari hiking dan tentunya sebagai waktu untuk sitirahat dan memulihkan tenaga. Saat ini telah banyak diproduksi alat masak yang ringan, mudah dibawa, dan cara penggunaannya sederhana. Beberapa peralatan masak dan makan yang perlu dibawa saat dilapangan antara lain
Piring, digunakan sebagai tempat makan, sebaiknya dari bahan ringan seperti plastik atau aluminium dan tidak banyak memakan tempat
Sendok, bisa ditambah dengan garpu atau sumpit, digunakan untuk kebersihan makanan, karena tangan telah memegang segala macam barang sehingga tangan tidak steril dari kuman
Gelas, tidak baik menggunakan tempat makan sebagai tempat minum karena minuman akan tercampur dengan bekas makanan sebelummnya
Pisau, digunakan untuk memotong bahan makanan atau membuka kaleng
Nesting, alat masak bersusun (seperti rantang) terdiri dari tiga bagian, kecil untuk menggoreng dan dua lainnya untuk memasak, memiliki dua tangkai yang dilepas dan satu tangkai busur untuk menggantung. Ketiganya dapat dipakai sebagai penutup untuk satu sama lain. Saat di pack bisa diisi dengan bahan makanan
Kompor lapangan, dengan perkembangan hiking kompor untuk dilapangan dibuatkan khusus, biasanya ringan, gampang dilipat, dan mudah pengoperasiannya. Kompor lapangan ada beberapa macam dan biasanya tergantung dari bahan bakarnya.
Sedang jenis bahan bakar dan kompor lapangan yang sering dibawa antara lain
Tabung gas, kompor yang digunakan seperti kompor gas berbentuk lingkaran dengan lubang kecil disekitarnya tempat keluarnya gas, ada yang memiliki pemantik sendiri dan adapula tidak
Spiritus, menggunakan kompor berbentuk kaleng kecil, dengan sisi lingkar atas dibuatkan lubang kecil.
Minyak tanah, seperti kompor pada umumnya tapi lebih kecil menggunakan sumbu.
Parafin tablet, merupakan bahan bakar umum yang digunakan di lapangan, bentuknya kotak persegi berwarna putih, kompornya dapat dilipat dan jika dibuka lipatan atasnya dapat menjadi penyangga.

Alat Penerangan
Penerangan sangat penting dalam melakukan perjalanan, karena saat malam hari kita memerlukannya. Penerangan yang dibutuhkan terdiri dari penerangan listrik dan penerangan api.
Penerangan listrik utama berupa senter dan dapat pula berupa generator kecil. Jika menggunakan senter kita perlu membawa juga cadangan senter berupa baterai dan bohlamnya, senter yang digunakan sebaiknya yang memiliki dua baterai agar ringan, terbuat dari plastik, dan baterai yang digunakan sebaiknya kondisi baru.
Baterai ukuran D per biji memiliki daya tahan selama ± 10 jam pemakaian terus menerus sedang ukuran AA per buah memiliki daya tahan ± 6 jam (tergantung merek), namun kondisi diatas tidak termasuk jika disusun seri dan paralel. Hindari senter dari air pada saat hujan atau disungai dengan membungkusnya denga plastik (terutama senter yang terbuat dari besi)
Penerangan api, berupa lilin, lampu badai, lampu petromak, api unggun, dan sebagainya. Penerangan ini membutuhkan bahan bakar, sehingga kita perlu membawa bahan bakar seperti minyak atau lilin. Perlu diperhatikan dalam menyalakan api yaitu
Jauh dari bahan bakar yang mudah menyala seperti spritus
Tidak ada hembusan angin
Menetap, tidak pindah-pindah
Jangan ditinggal tidur
Lilin dan lampu badai digunakan sebaiknya jika dalam keadaan istirahat menggantikan senter, sedang senter digunakan saat mobilitas
Alat kebersihan/hygene
Kebersihan fisik badan dilapangan diperlukan, karena menunjang kesehatan kita untuk tetap beraktifitas. Alat atau bahan kebersihan yan perlu dibawa antara lain
Perlatan mandi, sabun, sikat gigi dan pastanya
Kapas, tissu kering dan tissu basah
Peralatan perawatan kulit seperti sunblok, handbody, vaseline anti nyamuk dan lain sebagainya terutama bagi wanita 
Cuci tangan steril instan (pengganti sabun jika air terbatas)

Tali
Tali yang dibawa lebih banyak digunakan sebagai tali tenda dan tali jemuran sehingga yang pakai adalah tipe hawser laid, terbuat dari bahan plastik atau dari serat tumbuhan seperti sabut kelapa, ijuk atau nilon. Sedang untuk jenis kernmantel jarang digunakan karena mahal, berat, dan pengoperasiaanya sedikit sulit dibanding haswsier laid. Nanti digunakan saat memerlukan pemanjatan tebing seperti rock climbing atau melakukan SRT.
Jenis tali lain yang sering digunakan adalah tali rafia, sangat sering dipakai karena ringan, kuat (tergantung jalinan dan seratnya), murah, dan dapat dibagi menjadi potongan yang lebih kecil serta kadang hanya sekali pakai.

Webbing
Tali berbentuk pita selebar 2,5 – 5 cm dan panjang ± 5 m, dibuat dari serat nilon dan campuran bahan lain sehingga kuat untuk menahan beban berat hingga 100 kg (tergantung campuran bahan serat digunakan). Efektif untuk daerah yang terjal tapi tidak tinggi, digunakan juga untuk mendirikan tenda, tali gantungan dan sebaginya. Pada SRT set digunakan sebagai harnest yaitu dudukan yang untuk menopang tubuh dari tali yang dikaitkan ditubuh kita

Alat Komunikasi
Saat ini dengan penggunaan komunikasi yang semakin luas, ada baiknya saat melakukan perjalan membawa alat komunikasi, seperti Handy Talkie (HT) yang menggunakan baterai. Selain sebagai alat penghubung antara sesama pendaki juga sebagai alat pantau oleh pihak ketiga. Jika terjadi sesuatu diluar dugaan seperti kecelakaan dan meminta pertolongan, segera dapat dilakukan dengan menghubungi instansi/atau SAR setempat (jika salurannya diketahui)
Manajemen
Dalam melakukan hiking (pendakian) terutama berkelompok, seringkali membawa banyak barang dan lokasi pendakian yang jauh jaraknya dari tempat tinggal sehingga tiap orang bertanggung jawab atas keselamatan masing-masing, juga terhadap sesama anggota kelompok, dan barang bawaan. Sehingga untuk mengatur di perlukan manajemen kelompok dalam melakukan hiking

Manajemen Perjalanan
Pra Pelaksanaan
Sebelum melaksanakan kegiatan, di awali dengan pencetusan ide dan lain sebagainya. Adapun kegiatan sebelum berangkat antara lain.
Menentukan tempat, waktu, dan lama pelaksanaan pendakian, jika perlu ditambah informasi cuaca/iklim dan geografis dari tempat tersebut. Dan bentuklah panitia sebagai pelaksana kegiatan
Menentukan jumlah peserta dan perkiraan barang bawaan berupa logistik, jumlah tenda, alat-alat yang diperlukan, biaya yang dikeluarkan, sarana transportasi menuju dan dari lokasi ke tempat asal
Membuat surat izin atau sekurang-kurangnya surat pemberitahuan ke beberapa pihak tidak perlu semuanya tergantung dari seberapa pentingnya acara, jumlah peserta yang ikut, lamanya pendakian, dan jarak perjalanan dari tempat asal. Minimal seminggu sebelum hari H, adapun tempat penyampaian surat yaitu :
Univeristas : Dekanat, Rektorat
Instansi Pemerintah : Polres, Polda, SARDA, PMI, (berwenang di area pendakian)
Pemerintah setempat : Dusun, Lurah, dan Camat

Pos Pendakian.
Jika daerah pendakian dikuasakan ke suatu instansi maka kirimkan juga surat ke instansi tersebut
Meminta surat izin berarti memasukkan surat dan menunggu surat ber-izin dari instansi tersebut sedang surat pemberitahuan hanya memberitahukan kepada instansi  tersebut. Sekali lagi mengirim surat ke instansi tergantung dari besarnya tanggung jawab dari pelakasanaan pendakian tersebut.
Melakukan persiapan fisik (berolahraga), persiapan alat (meminjam alat), persiapan logistik (belanja), dan sekaligus menghitung jumlah peserta yang akan ikut untuk dibandingkan dengan persiapan alat dan logistik.
Mengadakan briefing minimal H minus 1
Sebelum berangkat melakukan chek n’ rechek untuk semua peralatan dan barang lainnya. Dan tidak lupa untuk berdoa

Pelaksanaan
Hal yang perlu diperhatikan selama pendakian
Tiba di lokasi, segera melakukan chek person dan bawaan dan segera melapor ke pos pendakian atau tempat untuk melapor untuk mendaki
Mematuhi larangan yang diberlakukan dalam area pendakian seperti membuat api unggun dan membuang sampah
Tepat waktu, untuk kelancaran perjalanan sebaiknya membuat jadwal target waktu dan target lokasi
Selalu memperhatikan kondisi cuaca, iklim setempat, kemampuan peserta
Istirahat dan makan yang cukup, untuk menjaga stamina dan kondisi badan
Selalu siap dengan situasi yang tidak terduga, dan tenang dalam menghadapinya
Setiap malam melakukan evaluasi harian dan perencanaan kegiatan esok
Tidak merusak lingkungan sekitar kamp bermalam, dan menjaga kebersihan kamp terutama dari sampah dan bau tak enak.
Berhemat dalam air dan logistik
Jangan meninggalkan sampah jika perlu dibawa sampai turun gunung
Pasca Pelaksanaan
Apabila pelaksanaan pendakian telah usai dan tiba di tempat asal, kegiatan yang perlu dilakukan antara lain
Chek alat dan bawaan
Mencuci alat segera mungkin, karena kotoran yang sudah lama menempel sukar hilang. Lalu di keringkan
Segera mengembalikan semua barang pinjaman
Evaluasi dan pembuatan laporan perjalanan

Manajemen Ransel/Carrier
Mengadakan hill walking selama satu hari satu malam atau lebih membutuhkan banyak kebutuhan hidup seperti air, makanan, dan tempat tinggal (kamp). Untuk membawa kebutuhan tersebut tentunya tidaklah cukup tempat dan tidak kuat membawa semua peralatan ideal seperti peralatan di rumah, sehingga kita perlu membawa peralatan yang tepat dipakai dilapangan dan bermulti fungsi.
Beberapa alat yang perlu dibawa telah disebutkan sebelumnya, sekarang bagaimana menata barang tersebut dalam tas/carrier agar cukup, pas, mudah diambil dan mengetahui letak barang tersebut. Berikut ini cara pengepakan barang dalam carrier namun perlu improvisasi karena tidak semua barang dimasukkan, disebutkan disini.
Carrier yang digunakan (sebaiknya) adalah jenis frame dengan bukaan tali atas (seperti guling) ukuran 60 liter keatas, dan penutup tas atas memiliki kantong.
Semua barang dikelompokkan, dibungkus dengan plastik/kresek. Selain itu plastik berfungsi sebagai anti basah (water proof) ketika hujan atau air dalam tas bocor. Pakaian, makanan pokok, makanan kecil, dan sebagainya dibungkus rapi. Tempat makanan/wadah yang memiliki ruang di isi dengan makanan atau bahan bakar. Barang eletronik dan pecah belah, dilapisi kain atau disisipkan dalam pakaian
Matras dilipat dua dan digulung lalu dimasukan dalam carrier dan mekarkan gulungan matras sehingga menjadi dinding di dalam tas.
Lalu masukkan barang satu persatu, adapun menyusun barang sebagai berikut
Barang besar dan ringan paling bawah seperti sleeping bags dan tenda/flying sheet
Diatasnya barang berat seperti tempat air, logistik (makanan, kompor, tabung gas, bahan bakar, dan sebagainya).
Diatas barang tersebut pakaian dan makanan ringan
Paling atas ponco atau raincoat atau jaket (jaket dapat ditaruh bersama SB di bawah, jika ada ponco atau raincoat)
Pada kantong kepala masukkan barang kecil seperti topi, slayer, binokuler, alat tulis, sarung tangan, makanan kecil, plastik/kresek, tissu, dan survival kit.
Barang yang berukuran panjang seperti parang disisipkan berdiri dan dibungkus jika tidak memiliki sarung, barang kecil seperti lilin, baterai cadangan,tissu, gelas dan sebagainya disisipkan juga di bagian tepi (menempel matras).
Tutup rapat tempat air minum dan bahan bakar cair dan dibungkus kresek, sebaiknya botol dalam keadaan penuh, jika memiliki udara dapat mengakibatkan tekanan dalam botol berubah-ubah dan akhir botol penyok dan bocor. Air umumnya lebih berat dibanding barang lain letakkan pada sisi punggung
Usahakan semua barang dalam kondisi rapat (high tide), tidak ada ruang kosong terutama bagian tepi, isi sela-sela barang dengan barang kecil seperti makanan kecil atau kain (bukan pakaian). Jika perlu ditekan kebawah (dengan kaki) dengan hati-hati, dan sekali-sekali diangkat agar semua berat barang turun kebawah. Saat berkendaraan posisi carrier terkadang di tidak menentu kadang tidur, berdiri, miring atau ditumpuk dengan barang lain, dengan posisi barang dalam keadaan rapat maka tidak perlu khawatir jika ada yang barang yang rusak atau bocor.
Jika masih ada sisa ruang diatas, isi dengan barang kelompok. Namun jika masih ada barang yang belum masuk, gunakan tas tambahan seperti daypack dan isi dengan barang yang ringan. Tukarkan barang dalam carrier yang ringan ke daypack sehingga semua yang berat dan besar berada dalam carrier sedang yang ringan dan sering digunakan masukkan dalam daypack.
Carrier yang telah di isi dengan baik dapat dilihat dari bentuk dan posisinya, jika digerakkan cendrung seimbang tidak ada yang bergerak didalamnya dan jika didirikan tidak rebah karena gaya berat menuju kebawah.
Terkadang pula barang seperti tenda dan SB ditempatkan diluar tas, guna menghemat ruang dalam tas dan memudahkan untuk mengambilnya. Namun sekali lagi semua terantung improvisasi kita sehingga semua barang masuk dalam tas dan nyaman saat di bawa.
Barang yang sering digunakan seperti peta, kompas, protaktor, botol kecil untuk minum di masukkan dalam kantong celana. Dan saat hiking sebaiknya tangan bebas dari peralatan apapun kecuali jika menggunakan alat bantu seperti tongkat.
Hal lain yang perlu diketahui adalah kapasitas berat yang dapat dipikul carrier. Berat yang dapat diisi menurut kapasitasnya sebagai berikut.
Kapasitas isi 60 liter    maksimal berat 11 kg
Kapasitas isi 80 liter    maksimal berat 15 kg
Kapasitas isi 100 liter maksimal berat 18 kg
Kelebihan berat dapat mengakibatkan rusaknya keseimbangan beban, kain, jahitan, dan merusak carrier tentunya. Untuk menghitung berat beban kasar yang dipikul salah satu caranya dengan melakukan perbandingan berat, air memiliki r (rho:massa jenis) 1 artinya setiap 1 liter H2O murni memiliki berat 1 kg, bandingkan berat satu botol air minum dengan barang lainnya dan hitung total berat bawaan. Sedang cara yang paling efektif adalah menggunakan timbangan

Manajemen Camp
Salah satu bagian kegiatan hiking adalah camping (berkemah), dalam kegiatan kamp kita membuat tempat tinggal untuk bermalam, istirahat dan makan untuk memulihkan tenaga, membersihkan diri, dan mengadakan evaluasi dan perencanaan kegiatan.
Untuk kelancaran kegiatan diatas, dibutuhkan tata letak, kerapian, dan kebersihan area kamp dan lingkungan sekitarnya. Apalagi tidak semua orang memiliki sifat yang sama menyangkut kerapian, sehingga perlu adanya kesepakatam dalam penataan tenda, tempat masak dan makan, tempat barang/peralatan, dan tempat sampah termasuk tempat buang air.

Tenda
Hitunglah jumlah tenda yang tersedia dan bandingkan dengan jumlah peserta, jika kelebihan tenda jadikan tempat penyimpanan alat, namun jika kekurangan tenda maka buat bivak sejumlah orang yang tidak mendapatkan tempat (jika setuju) atau gabungkan dua tenda atau lebih untuk mendapatkan sisa tempat dari masing-masing tenda (tipe dome), atau bongkar satu tenda flying sheet untuk dijadikan atap dan untuk menahan angin dari samping menggunakan ponco atau lembaran kain/kertas/plastik, tergantung improvisasi kelompok dilapangan.
Posisi tenda yang baik atau ideal tergantung dari tempat kamp itu sendiri, agak miring, dekat tempat air atau banyak pohon sehingga ruang lapang sedikit. Yang biasa dibuat adalah berbentuk berhadap-hadap (pintu masuk). Jika ada dua tenda maka bagian lapisan luarnya dapat digabung dan mendapatkan tempat bernaung yang lebih luas. Jika lebih dari dua, dibuat dalam posisi melingkar dan bagian tengah dijadikan tempat api dan sekaligus tempat masak.

Saat Makan
Idealnya semua peserta yang turut serta kelapangan membawa alat masak dan alat makan sendiri namun kenyataannya sering tidak membawa salah satunya bahkan keduanya dengan harapan bahwa teman lain bisa meminjamkannya atau bisa memakai bergiliran dengan yang lain. Pinjaman dan giliran mungkin tidak bermasalah jika tidak memperhitungkan jadwal kegiatan yang akan dilaksanakan setelah makan, kegiatan yang akan dilaksanakan setelah makan akan mulur dari jadwal dan tentunya akan jadwal selanjutnya juga ikut berubah. Sehingga sebaiknya semua peserta membawa lebih alat makan seperti piring, sendok, dan gelas dibanding alat masak, karena masak bisa untuk lebih dari satu orang.
Saat masak untuk kelompok, tunjuklah seorang sebagai koordinator masak, tugasnya mengumpulkan wadah plus kompor (jika perlu bahan bakar) dari peserta lain dan mengaturnya untuk masak, menu makanan, dan mencuci wadah yang digunakan (kecuali alat makan peserta). Perhitungkan porsi makan rata-rata perorang, berapa wadah/nisting, kompor, bahan bakar, dan air yang dibutuhkan untuk memasak. Hindari sifat boros seperti menyisakan banyak makanan dan berlebihan menggunakan air kecuali didekat kamp ada mata air (yang mengalir, bukan tergenang)
Banyak bahan bakar dan kompor yang digunakan saat ini, tergantung efektifitas panas, kemudahan penggunaan, dan kebersihan dalam memakainya. Jenis kompor telah disebutkan sebelumnya sedang bahan bakar yang sering digunakan yaitu
Tabung gas, efesien dalam menghasilkan panas (dapat diatur panas yang diperlukan), dalam sampul keterangan terdapat  kandungan dan lama pemakaian hingga habis. Menyalakannya dengan menggunakan korek harus hati-hati, caranya nyalakan terlebih dahulu koreknya lalu dekatkan dengan lubang yang mengeluarkan gas kemudian keluarkan gasnya berlahan-lahan, jika setelah menyala atur tingkat apinya. Gas yang dikeluarkan tidak menghasilkan gosong
Spiritus, awalnya panas yang dihasilkan kecil namun lama kelaman menghasilkan panas yang cukup namun tidak dapat mengatur panas yang dihasilkan, penggunaanya yaitu mengisi kaleng (kompor spritus) dengan spritus kemudian nyalakan dengan korek api, perlu diperhatikan untuk selalu menutup botol spritus karena spritus sama dengan bensin mudah menguap dan mudah menjalarkan api (tanpa materi pembakar). Menggunakan spiritus harus berhati-hati, jauhkan botol spritus dari sumber api dan tutup rapat. Saat mengisi kompor atau refill kompor harus yakin betul dalam keadaan mati (tidak ada api), jika api sampai menyambar botol spritus, botol akan MELEDAK. Api yang dihasilkan tidak meninggalkan gosong
Minyak tanah, sama dengan spritus dalam menghasilkan panas namun dapat diatur panas yang dihasilkan. Cairan minyak tanah tidak seperti spiritus, minyak tanah membutuhkan materi pembakar seperti kain sumbu atau kayu untuk menguap terbakar sehingga jika langsung api diletakkan diatasnya (seperti spritus) tidak akan terbakar. Spritus berwarna biru sehingga dapat dibedakan dengan air tapi minyak tanah bening seperti air minum sehingga harus dibedakan botolnya, agar tidak terminum. Api yang dihasilkan meninggalkan gosong
Parafin tablet, merupakan bahan bakar umum yang digunakan di lapangan, bentuknya kotak persegi berwarna putih, kompornya dapat dilipat dan jika dibuka lipatan atasnya dapat menjadi penyangga. Satu tablet dapat bertahan menyala selama ±30 menit sehingga dalam penggunaannya dapat dipotong-potong untuk menghemat atau mengatur jumlah panas yang diperlukan. Api yang dihasilkan meninggalkan gosong pekat.

Packing
Yaitu memasukkan barang-barang ke dalam ransel baik yang telah digunakan atau belum digunakan untuk melanjutkan kegiatan berikutnya. Saat packing hal yang perlu diperhatikan antara lain
Membongkar dan melipat tenda dengan rapi, tapi sebelumnya keluarkan semua isi/barang dalam tenda dan taruh di tempat lain misalnya diatas ponco/matras
Kembalikan semua barang ke pemilik masing-masing seperti alat masak, webbing, matras, ponco, dan sebagainya agar tidak ada barang yang dianggap hilang dan perhatikan jangan sampai ada yang tertukar.
Melakukan chek dan rechek pada semua barang yang dikeluarkan dari carrier atau barang yang menjadi tanggung jawab dan menatanya kembali masuk kedalam carrier
Apabila semua barang masuk dalam carrier, periksa sekeliling kamp kemungkinan ada barang yang dilupakan tertinggal, semua sampah dikumpulkan termasuk tali rafia dalam satu wadah dan dibawa.
Tempat atau area bekas pembakaran disiram secukupnya dengan air agar lebih yakin tidak ada bara api yang ditinggal. Karena saat cuaca terang di siang hari membuat bara api tidak terlihat jelas dan daerah pegunungan yang bersih mengandung banyak oksigen murni yang mampu menyulut bara api membesar menjadi api.
Jika acara packing telah selesai lakukan cleaning camp ditempat tersebut dan usahakan kondisi tempat kamp setelah ditinggalkan sama sebelum kita datangi.
Simpul-Tali Temali
Dalam beberapa tindakan memerlukan bantuan tali, telah disebutkan jenis tali dan kegunaannya sedang teknik penggunaannya belum semuanya dijelaskan salah satunya tentang tali temali termasuk diantaranya tentang simpul (knot), tali jerat (loop) dan tali tambat (hitch).
Bentuk simpul bermacam-macam tergantung dari tujuan, penggunaan, dan efektifitasnya. Kadang membutuhkan simpul yang kuat namun mudah dibuka kembali, atau simpul kuat dan tidak gampang dibuka dan sebagainya. Simpul dan teknik tali temali yang perlu diketahui antara lain
Simpul sederhana seperti Overhand knot, Overhand loop, Figure of eight, figure of eight loop.
Sambung tali seperti sheet bend, double sheet band (menyambung dua tali berbeda jenis), Fishermen’s knot, double fishermen’s knot (menyambung dua tali sejenis) dan tape knot (menyambung webbing)
Tali jerat seperti bowline, running bowline, triple bowline, bowline on the bight, manharness hitch, dan honda knot
Tali tambat seperti, Round turn, clove hitch, timber hitch, kilick hitch, marlin spike hitch, quick release hitch.
Masih ada teknik tali temali yang lain seperti pembuatan tangga, memendekkan tali yang panjang, dan sebagainya. Untuk gambaran dan bagaimana pembuatannya pada lampiran

Jejak
Salah satu hal yang perlu pengetahuan umum yang perlu dalam hiking adalah pengenalan jejak, dalam hal ini jejak yang dikenali adalah jejak kaki binatang yang mendiami area hiking. Dengan mengetahui binatang yang mendiami area tersebut, dapat meningkatkan kewaspadaan dan resiko bahaya yang mungkin dapat terjadi.
Manusia lebih banyak menggunakan akal dibanding binatang yang lebih banyak menggunakan naluri dan insting (yang juga ada pada manusia). Manusia akan berpikir berulang-ulang jika menghadapi suatu bahaya/resiko sedang hewan umumnya menuruti contoh dari induk atau ketua kelompoknya untuk bereaksi pada bahaya, sehingga bisa saja hewan yang lebih kecil dari manusia akan menyerang manusia
Pada wilayah tertentu yang belum pernah atau jarang dilewati manusia, jenis binatangnya tidak akan terkejut lari jika melihat manusia bahkan terkadang akan mendekati manusia, waspadalah selalu jika didekati binatang terutama jenis karnivora. Jika bertemu dengan binatang hutan terutama jenis karnivora sebaiknya ikuti petunjuk berikut
Diam, tidak bergerak sejenak menunggu reaksi dari binatang tersebut, umumnya binatang jenis non predator akan lari jika melihat manusia.
Mundur, dengan berlahan-lahan dan jangan melakukan gerakan tiba-tiba, dan jangan takut karena bintang dapat “mencium ketakutan” dari mangsanya
Hindari jalur tersebut kemudian hari karena mungkin adalah jalur binatang tersebut
Gunakan sarung parang atau kayu untuk memukul binatang tersebut jika akan atau tiba-tiba menyerang. Dan jika menyerang (usahakan) jangan memberi luka darah pada hewan karena akan lebih menjadi ganas.
Jika terpaksa lari, lari berzig-zag dan perhatikan arah lari jangan sampai terperosok kelubang atau terperangkap.
Dan ingat jenis bintang tersebut apakah binatang yang hidup berkelompok atau sendiri, jika berkelompok maka binatang tersebut kemungkinan lebih dari satu dan itu berarti jika bertemu masih ada binatang lain lagi, jika berburu mereka sering bekerja sama sehingga mudah mendapatkan mangsa.
Hygene
Adalah kebersihan, yaitu bagian penting dari hidup. Dalam keadaan normal (dirumah) kebersihan cukup mudah di lakukan karena ringan, mudah, dan permanen. Namun dilapangan terutama saat istirahat (kamp) melakukan tindakan/sikap kebersihan sulit dikerjakan, karena banyak hal seperti lelah, lapar, jadwal menumpuk, dan sebagainya.

Defecate- Latrines
Defecate arti dalam bahasa indonesia adalah buang air besar dan Latrines adalah kakus. Proses pembuangan sisa makan dari tubuh merupakan satu faktor pokok untuk kesehatan, jika selama 2 x 24 jam tidak mengalaminya menurut kesehatan maka akan mengalami gangguan pencernaan. Banyak yang tidak menyukai buang air besar dilapangan dikarenakan
Tidak biasa/pernah melakukan sebelumnya
Suasana atau area kadang tidak mendukung atau susah mencari tempat
Kebersihannya/cucinya tidak menggunakan air karena air harus dihemat, atau terbiasa menggunakan air untuk kebersihan
Dengan demikian, banyak orang menghindari buang air besar dengan makan dalam porsi sedikit. Hal tersebut tidaklah sehat karena dilihat dari kesehatan, tubuh berada dalam kondisi diatas normal dan memerlukan banyak pasokan energi sehingga asupan makanan yang biasa (normal) dilebihkan.
Setiap makanan menghasilkan sisa yang akan disalurkan tubuh melalui saluran sekresi, sehingga setiap makanan yang kita makan nantinya akan menghasilkan buangan, berapa pun banyaknya. Jika dalam dua hari tidak mengeluarkan sisa maka penglihatan melemah dan muka pucat serta banyak lagi gangguan kesehatan berikutnya.
Karena dilapangan sulit mendapatkan toilet ada baiknya mengetahui teknis membuat toilet dilapangan (sebaiknya yang kamp lebih dari 2 hari), yaitu

Carilah lokasi yang cukup aman untuk membuat sebuah lubang pembuangan, aman dari gangguan hewan, jauh dari jalur setapak, dan tempat kamp. Lokasi datar dan setidaknya lebih rendah dari posisi kamp, dan jangan dekat jalur air.
Buatlah lubang bujur sangkar dengan sisi ± 50 cm dan dalam 80 cm (makin dalam lebih baik)
Tempatkan gelondongan kayu diatas lubang untuk menutupinya dan sisakan sedikit ruang untuk pembuangan ditengahnya, dibawah kayu di beri alas dengan batuan agar kokoh
Untuk lubang ditutupi dengan daun lebar atau papan pipih.
Jika selesai memakai “wc” ini taburi dengan tanah sedikit (bekas galian) untuk menutupi baunya dan tutupi kembali lubang pembuangan dengan penutupnya
Jika perlu buatlah menjadi semacam toilet tertutup dengan memberinya semacam dinding disekitarnya.

Disposal
Adalah sampah atau sisa yang harus dibuang dan tidak terpakai lagi seperti sisa makanan, kertas, plastik, dan sebagainya. Jika sampah yang dibuang berupa bahan daur ulang yaitu bukan bahan (mengandung) plastik dan besi sebaiknya ditanam atau dibakar namun jika dibakar, api yang dibuat harus diawasi (jangan sekali-sekali ditinggalkan)

Soap
Setidak jika bertemu sumber mata air segera membersihkan diri, tidak perlu sampai mandi cukup membersihkan beberapa bagian tubuh seperti muka, tangan, dan kaki yang merupakan bagian tubuh yang sering terkena kotoran langsung dari luar. Begitupula saat hendak makan seharusnya membersihkan tangan sebelum makan.
Sisa makanan yang masih menempel didalam wadah masak dapat merangsang tumbuhnya bakteri dan jamur apalagi pada tempat makan yang jarang dicuci bersih hanya menggunakan tissu. Gunakan sabun untuk menghilangkan lemak dan minyak pada tempat makan dan wadah masak dan sabun yang digunakan ramah lingkungan.

0 comments:

Post a Comment

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin

Search Site